Pages

Wednesday, September 28, 2011

[Pertemuan Pertama] Psikologi Industri

Dalam perjalanannya sebagai sebuah ilmu, Psikologi telah banyak memberikan kontribusi bagi perkembangan organisasi atau perusahaan dalam meningkatkan kinerja dan produktivitas. Bagi orang awam seringkali Psikologi disebut dengan ilmu jiwa karena berhubungan dengan hal-hal psikologis/kejiwaan. Psikologi memiliki beberapa sub bidang seperti Psikologi Pendidikan, Psikologi Klinis, Psikologi Sosial, Psikologi Perkembangan, Psikologi Lintas Budaya, Psikologi Industri & Organisasi, Psikologi Lingkungan, Psikologi Olahraga, dan Psikologi Anak & Remaja. 

Dari beberapa sub bidang tersebut Psikologi Industri dan Organisasi (PIO) merupakan bidang khusus yang memfokuskan perhatian pada penerapan-penerapan ilmu Psikologi bagi masalah-masalah individu dalam perusahaan yang secara khusus menyangkut penggunaan sumber daya manusia dan perilaku organisasi. 



ORGANISASI

Dalam hal kehidupan berorganisasi, setiap orang yang pernah mengeyam pendidikan minimal sekolah menengah pertama (SMP) pasti pernah mengikuti kegiatan organisasi walaupun hanya sebatas anggota OSIS. Setidak-tidaknya pasti tahu akan adanya kepengurusan dalam berorganisasi. Berbekal pengalaman itu saja sudah merupakan sesuatu yang sangat berharga, apalagi ditambah dengan bekal organisasi ekstra yang bersifat muatan lokal seperti Pramuka, PMR, Paskibra, dll.


Dalam lingkup yang lebih luas, yaitu di perusahaan, organisasi yang selalu dikehendaki adalah organisasi yang dapat mengelola Sistem dan SDM secara terkoordinasi dengan baik sehingga tercipta keharmonisan yang dapat saling menunjang produktivitas dalam hal yang positif.


Berdasakan pengalaman yang pernah penulis alami selama bekerja di 2 (dua) jenis perusahaan yang berbeda, yaitu perusahaan swasta dan perusahaan milik pemerintah terdapat beda yang signifikan mengenai budaya, mentalitas, dan produktivitas kerja. Sebut saja PT.S (untuk swasta) dan PT.P (untuk pemerintah).

Dalam hal pengelolaan organisasi, PT.S yang notabene adalah perusahaan milik pribadi dan pribumi asli yang sedang ingin Go Publik serta masih dalam tahap pengembangan dan pencarian jati diri dalam pengelolaan sistem dan manajemen SDM selalu mengupdate sistem kerja yang baru dengan kajian-kajian yang dapat dikatakan masih trial and error. Kegiatan yang masih trial and error inilah yang merupakan letak tantangan yang harus saya dan tim hadapi, karena saya dan tim diberi keleluasaan untuk melakukan perubahan secara fundamental yang signifikan terhadap keberlangsungan kehidupan perusahaan (tentunya dengan koordinasi terlebih dahulu bersama manajemen). Ibarat pepatah, saya sedang menjadi ikan besar dikolam kecil. yang dapat melakukan banyak manuver untuk melanjutkan keberlangsungan perusahaan.  Walaupun dengan situasi dan kondisi yang masih rentan dengan berbagai perubahan, saya dan tim bekerja berdasarkan sistem kekeluargaan yang sangat erat, karena bukan hanya ilmu manajerial yang kami dapatkan, melainkan ilmu kehidupan yang selalu ditanamkan terus. Persaingan secara tidak sehat sangat kami hindari guna menghilangkan kesenjangan yang biasanya terjadi dalam perusahaan.

Lain hal dengan PT.P yang merupakan perusahan milik pemerintah, semua aturan sudah ada dan bersifat sangat mengikat. Keseluruhan manajemen ditangani secara profesional dan matang. Hampir tidak ada celah yang bisa dimanfaatkan oleh karyawan untuk tidak melakukan hal yang produktif. Tapi sayangnya, hal itu hanyalah tulisan yang ditulis dalam hard cover dengan bahasa yang bagus tanpa implementasi yang dilakukan secara menyeluruh. Budaya kerja yang "tarsok" (ntar ajah bisa besok) dan tidak bisa melakukan "service" secara cepat merupakan ciri budaya kerja ini. Bahkan ada joke dari beberapa sahabat yang bilang begini :"kalo bisa dilakukan nanti kenapa harus dikerjain sekarang". Walah-walah, saya sempet tercengang mendengar hal seperti itu, tapi ada daya dan apa mau dikata, saya sudah masuk dalam komunitas tersebut maka saya harus be different man. Berbeda dengan budaya PT.S, saya disini bagai ikan kecil dikolam yang besar. Akan tetapi, dibalik budaya tersebut tersimpan pengelolaan dan pengembangan SDM yang sangat menjadi perhatian bagi saya karena keterampilan dan wawasan setiap individu akan terus diasah.

Setiap tahunnya, masing-masing individu diberi plafon pelatihan minimal 24jam yang setara dengan 3 hari kerja. Serta tidak menutup kemungkinan studi banding yang dilakukan ke mancanegara bagi orang-orang yang kapasitas dan kapabilitas dalam segala halnya telah mumpuni.


Seseorang yang pintar, cerdas, kompeten, dan yang memiliki kemampuan diatas rata - rata dapat dikatakan telah memiliki SERVICE yang baik apabila mengikuti rumusan berikut :

Apabila seseorang yang pintar, cerdas, kompeten, dan yang memiliki kemampuan diatas rata - rata tersebut belum memenuhi kriteria diatas, maka dapat dikatakan belum memiliki service yang luar biasa untuk menjadi seorang leader.


Dikutip dari materi Psikologi Industri Teknik Industri Universitas Pancasila
4410215038 Mohamad Asep Iskandar 24Sep11